Motorku Watuk nek Diombeni Pertalite
Halo, man-teman. Bagaimana kabarnya? Akhirnya ada energi untuk kembali menulis lagi. Kalau waktu saya luang sekali. Hahaha. Saya pengangguran dan semua hari bagi saya itu hari Minggu. Hahahaha. Oiya, bagaimana tanggapan kalian soal naiknya harga pertamax beberapa waktu yang lalu? Apa sudah terasa efeknya? Hmm, saya sudah merasakan efeknya. Jadi, ijinkan saya untuk bercerita tentang apa yang saya alami.
Mulai dari
judul dulu ya. Judulnya jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia akan menjadi
kalimat seperti ini: Motorku batuk jika diberi minum pertalite. Dulu saya
sering menggunakan kalimat ini untuk bahan bercandaan aja. Karena pada waktu
saya masih menjadi pengguna pertamax sejati. Hahaha. Kalau ada yang baper sama
kalimat tersebut ya saya mohon maaf karena niat saya cuma bercanda. Hehe.
Kenapa harus
diisi pertamax? Sebenernya keluarga saya dulu ya pakai premium dan pertalite
juga sebelum memutuskan untuk menggunakan pertamax. Jadi, kata Alm. Papa saya
PNS dulu ada peraturan untuk menggunakan pertamax. Nah, mulai dari situ, saya
setiap naik motor disuruh untuk menggunakan pertamax. Bukan karena keluarga
saya kaya, tapi lebih ke mematuhi peraturan aja. Tapi saya tidak tau apa
peraturan itu masih berlaku sampai sekarang atau tidak. Tidak hanya itu, Alm.
Papa saya bilang pertamax itu bagus buat mesin motor dan saya iya-iya aja
karena tidak begitu paham hal-hal berbau otomotif. Ya jadi seperti itu
kira-kira gambarannya kenapa dulu menggunakan pertamax.
Entah sadar
atau tidak, menggunakan pertamax ini semacam mempunyai hak istimewa ketika
mengisi bensin di SPBU. Entah di daerah lain seperti ini atau tidak, tapi
beberapa SPBU di Madiun memisah pengendara motor yang mengisi pertalite dan
pertamax. Karena pertalite harganya lebih murah, sudah jelas antriannya panjang
karena banyak yang menggunakannya. Mengisi bensin pertamax di beberapa SPBU
Madiun serasa istimewa karena kadang waktu datang tidak ada yang sedang mengisi
bensin yang artinya tidak perlu antri. Jadi tidak perlu skill membuka jog motor
dengan cepat dan melakukan transaksi yang sat set wet agar orang di belakang
bisa langsung mengisi bensinnya. Ya begitulah ya kira-kira, selain itu ya sama
aja aslinya.
Semenjak
Pemerintah mengumumkan kenaikan harga pertamax beberapa waktu yang lalu, saya
pikir tidak akan ada masalah. Awalnya. Tapi mulai bermasalah ketika mengisi
pertamax 20ribu yang dulunya hampir full, sekarang malah hampir cuma setengah.
Gokil, sejauh itu lo jaraknya. Mikirku kemarin itu kayak, “Alah, cuma segini
masih bisa agak lama lah ya.” Semua berubah ketika dikit-dikit harus isi bensin
dan blondrok dewe alias rugi sendiri.
Hal tersebut
membuat saya berdiskusi dengan Mama saya selaku Manajer di rumah untuk
mengganti bahan bakar dari pertamax ke pertalite. Saya melakukan penjelasan
sejelas-jelasnya karena Mama saya ini lebih buta otomotif dari saya. Tanpa
berpikir panjang dan tanpa ada negosiasi yang alot, beliau menyetujui apa yang
saya sarankan. Mulai dari hari itu, saya yang biasanya menggunakan pertamax
harus kembali menggunakan pertalite setelah hampir 7 tahun menggunakan
pertamax.
Apakah ada
dampak yang begitu besar setelah mengganti pertalite? Oh, jelas ada. Saya
sekarang kalau mau isi bensin harus tau waktu karena yang ngantri buat isi
bensin pertalite banyak sekali, Gaes. Tidak hanya itu, saya sekarang tidak bisa
lagi bercanda kalau motor saya bakalan batuk semisal dikasih minum pertalite.
Huhuhu.Mengsedih kalau kata sista-sista sekarang.
Mungkin itu
saja pengalaman yang bisa saya bagi mengenai fenomena kenaikan pertamax ini.
Jangan anggap serius karena tulisan ini hanya hasil iseng dan gabut saya ketika
sedang berada di rumah. Terima kasih sudah membaca hingga selesai. Sampai jumpa
di tulisan berikutnya.
Komentar
Posting Komentar