Postingan

REZIM GUGUK

  Jujur saja, kali ini mungkin akan menjadi tulisan yang paling Bahasa Jawanya mergo aku arep misuh. Sudah tampak jelas dari judul kalau aku bakale mbahas pemerintahan sing bosok koyok saiki. Jujur saja, aku pikir dengan bekerja akan membuat semua lebih baik dan ternyata tidak. Ndisek pikirku hanya sebatas, “pokok oleh kerjo, ketoke setengah masalah laine sek iso di-handle.” Sekarang? Bahkan kerjo tok ra cukup. Bajingan tenan. Nyapo tu nulis iki? Aku pengen meluapkan emosiku karo pemerintahan saiki, terkhusus Prabowo dan Gibran. Wong 2 i koyok silit njerit kabeh. Ndelogok ra nduwe utek, ndelogok koyok seolah-olah ra ruh opo sing lagi terjadi. Solusi dari mereka berdua pun ra enek sing mashoookk nggo perekonomian saiki. Iso koyok jembot to Prabowo karo Gibran. Terserah awakmu arep mengucilkan aku, arep ngeblock aku ning sosial media utowo awakmu pengen aku keluar dari circle-mu juga boleh. Bebas. Aku ra urusan mergo sing tak sambati juga masuk ke ranah kerjaku. Banyak nasabah ka...

Sering Geer/GR/Gede Rasa

  Geer atau GR atau kepanjangan dari gede rasa ini adalah bahasa gaul yang artinya perasaan yang terlalu besar atau berlebihan dalam hal apa pun. Tergantung situasi dan kondisi kali, ya. Aku juga bingung menjelaskannya, tapi aku rasa aku adalah orang yang pantas disematkan menjadi gelarku. Karena jujur saja, aku gampang sekali geer hahahaha. Dan setelah sekian lama aku men jawabannya, akhirnya aku menemukan jawabannya dari obrolan yang tidak terduga. Berawal dari obrolanku bersama teman kantor bernama Mbak Arlita, aku langsung tau jawabannya. Jadi, saat itu Mbak Arlita ini sedang curhat tentang anaknya. Katanya, anaknya ini pernah dipalak di sekolah, tetapi anaknya tidak merasakan bahwa itu adalah sebuah pamalakan atau pemerasan. Anaknya Mbak Arlita memliki kesimpulan bahwa siapa tau murid lain yang sedang memalaknya ini memang orang tuanya lagi susah dan akhirnya tidak bisa memberikan temannya itu uang jajan. Mbak Arlita bingung bagaimana bisa anaknya memiliki kesimpulan seperti...

Talk to Who?

  Setelah beberapa kali tidak berada di dekat rumah, seperti merantau ke Bojonegoro, Pacitan, dan sekarang di Ponorogo, aku baru sadar bahwa ada satu hal yang tidak bisa lakukan. Ya, benar. Aku tidak bisa bercerita ke sembarang orang. Mungkin ada sebagian orang yang menyangka bahwa hal-hal yang tidak bisa ku ceritakan   itu hal-hal sedih atau hal-hal yang membuatku menangis. Tidak. Tidak seperti itu. Karena sejujurnya ketika aku sedang merasa senang pun aku tidak tau harus membaginya ke siapa. Mungkin itu akhirnya aku mengerti tujuan adanya blog ini. Masih ada beberapa kesinambungan dari cerita-cerita sebelumnya. Papa dan Mamaku dulu hampir bercerai. Itu sebabnya aku tidak tau harus memposisikan diri bagaimana di rumah. Dan hal itu juga yang membuatku tidak begitu dekat dengan orang tuaku. Aku baru bisa ngobrol dengan Papaku saja sebelum Papa sakit dan ketika Papa jatuh sakit. Saat-saat terakhir itu di mana aku nonton bola tengah malam ditemani, kadang aku sambat soal kuliah...

KEPIKIRAN TERUS

  Entah kenapa akhir-akhir ini rasanya capek banget. Semakin ke sini, membuka Instagram, membuka TikTok, Threads, X, dan permedsosan lainnya ngerasa kalau algoritmanya memaksaku buat memiliki pasangan. Udah capek sama kerjaan, sama keadaan, malah diingetin kalau nggak punya pasangan sama algoritma. Padahal, aslinya aku sadar diri kalau aku emang belum siap. Aku merasa kurang terus karena memang banyak kurangnya aku yang sekarang ini. Salah satu kekuranganku yang menurutku nggak bisa ditutupi adalah finansial. Jujur saja, menginjak usia 28 dan bekerja dengan UMR Ponorogo ini jadi kepikiran. “Emang ada orang yang mau sama mas-mas berupah UMR?” Upah UMR aja dibuat sendiri udah keteteran. Aku ngerasa kalau aku harus banget menaikkan value-ku, tapi sadar kalau finansialku aja berantakan. “Tapi, nggak semua-semuanya dinilai dari finansial.” Kata siapa? Mau kelaparan kamu? Iya, menaikkan value-ku sendiri bisa dimulai dari hal-hal sederhana dulu seperti membaca buku misalnya. Aku meman...

Tuhan, Aku Mohon

  Dulu, aku merasa bahwa mengejar mimpiku untuk menjadi seorang komika sudah selesai. Karena ada banyak hal yang harus aku urus dan tidak mungkin aku mengurusnya dalam keadaan kantong kering. “Memangnya menjadi seorang komika itu kantongnya kering?” Ya. Apalagi komika daerah sepertiku yang notabene jarang sekali mendapatkan job atau tanggapan standup. Aku berharap dengan bekerja seperti sekarang, aku bisa setidaknya membantu keluargaku. Gajiku tetap dan aku bisa terus memberi napas ke keluargaku. Aku juga tidak membuat mama khawatir dengan hidupku. Aku mau mama merasa percaya pada pilihanku, karena aku yang menjalani ini dan aku yang bertanggung jawab atas diriku sendiri. Aku merasa bahwa standup sekarang cukup sekadar hobi saja. Cukup dijadikan pelampiasan emosi agar aku tidak stres bekerja. Tapi, ketika standup begitu jauh dari jangkauanku, aku begitu merindukannya. Aku merindukan circle-nya, bercanda bareng, orang-orangnya, penontonnya, kegelisahan sebelum manggungnya, kebin...

KEKURANGANKU

  Entah kalian percaya atau tidak, menurutku ini fenomena aneh. Aku merasa kurang dalam hal apa pun yang memang sebenarnya kurang banget kalau dilihat dan dihitung. Seperti ceritaku beberapa bulan yang lalu, 2025 kemarin saat aku dekat sama seorang cewek, aku merasa kalau aku ini cukup-cukup aja. Kurang, tapi kalau sama dia seperti tidak terasa kurang. Nah, sebelum bersama cewek itu dan sesudahnya sekarang, aku mulai minder dengan keadaanku jika dibandingkan dengan orang lain. Aku lihat orang punya iPhone aja langsung ngerasa kalau di usiaku yang sekarang tampaknya memang aku udah terlalu lama untuk memulai segalanya. Aku merasa kalau dulu aku banyak membuang waktu untuk impianku yang entah kapan bisa terwujud atau jangan-jangan tidak bisa terwujud sama sekali. Padahal itu baru ngelihat HP. Tidak cuma itu. Kadang aku melihat orang yang lebih muda dariku atau seumuranku bisa foto ke tempat oke dan memakan makanan yang oke pun aku minder. Karena selama ini aku makan seadanya aja....