Merayakan Nongki di Alam Terbuka
Halo, fellas. Alig, membuka tulisan ini dengan bahasa latin. Buat kalian yang tidak tau arti dari kata “Fellas” adalah “Semuanya” dalam Bahasa Indonesia. Tidak tau kenapa kata-kata dari Amerika Latin emang kane banget buat dilafalkan. Ya, mungkin cuma saya aja yang mengiyakan hal tersebut, tapi tidak apa-apa. Oiya, bagaimana kabar kalian? Semoga baik-baik saja saat tidak sengaja sedang membaca tulisan ini.
Paragraf di
atas bukan menjadi patokan tulisan ini akan membahas tentang pelafalan kata di
setiap bahasa. Tetapi tulisan ini adalah tulisan untuk merayakan diriku ini
yang memberanikan diri untuk berkemah di alam terbuka untuk pertama kali. Tepuk
tangan untuk aku. Prok prok prok. Makasih. Kalau dibilang pertama kali
sebenernya tidak. Karena dulu pernah berkemah waktu masih menjadi pelajar, baik
di SMP dan SMA. Saya merasa bangga karena mungkin ini adalah kegiatan berkemah
di alam terbuka tanpa pengawasan guru dan kakak pembina pramuka. Hahaha.
Jadi, saya
tidak berkemah sendiri melainkan berkelompok. Kegiatan berkemah ini adalah
salah satu agenda dari komunitas tercintaku, Standupindo Madiun. Ya, meski itu
cuma komunitas Stand Up Comedy bukan berarti kegiatannya hanya hal-hal yang
berkaitan dengan Stand Up Comedy saja. Berkemah merupakan salah satu agenda
juga di mana beberapa anggotanya akan nongkrong dengan suasana berbeda. Karena
biasanya anak-anak komunitas ini nongkrongnya di tempat seperti Coffeeshop,
Cafe, Angkringan, dan Warung. Bisa dibilang berkemah ini cuma nongkrong tapi
beda tempat dan suasana aja.
Kegiatan
berkemah yang dilakukan komunitasku kemarin adalah perkemahan kedua. Kegiatan
berkemah yang pertama dilakukan pada tahun 2018 setelah Special Show yang
dilakukan oleh Dodit Mulyanto di Madiun kalau tidak salah. Nah, sebenernya
kegiatan ini sudah diagendakan sejak lama tetapi keadaan saat itu tidak
memungkinkan karena pandemi. Berhubung kelihatannya pandemi sudah mulai
membaik, kami berinisiatif untuk melakukan kegiatan berkemah tersebut.
Tidak
seluruh anggota komunitas Standupindo Madiun mengikuti kegiatan berkemah ini.
Hanya sepuluh orang saja yang mengikuti kegiatan berkemah ini. Sepuluh orang
tadi sudah termasuk saya sendiri dan dibagi menjadi dua regu. Ada regu serigala
dan regu singa. Apa yang membadakan kedua regu ini? Tidak ada. Cuma beda
tendanya aja. Hahaha.
Kegiatan
berkemah ini diberi nama Persami alias Perkemahan Sabtu-Minggu karena memang
dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu. Tepatnya tanggal 7 dan 8 Mei tahun
2022. Berlokasi di Mloko Sewu yang berada di atas telaga Ngebel, Ponorogo.
Kira-kira waktu perjalanan dari Madiun sampai ke Mloko Sewu sekitar 2 jam
perjalanan. Nanti di sana tinggal mengikuti petunjuk arah saja atau bisa juga
menggunakan aplikasi google maps jikalau smartphone kalian ada sinyalnya.
Singkat
cerita, kegiatan perkemahan di sana tidak berjalan sesuai rencana awal. Jadi,
sudah direncanakan kalau di sana biar tidak suwung akan ada game atau permainan
yang akan diikuti oleh sepuluh orang tadi. Tetapi, tiba-tiba saja hujan deras
mengguyur area perkemahan dan membuat tenda regu singa kemasukan air. Sedangkan
regu serigala berusaha memindahkan tenda mereka ke tempat yang lebih tinggi.
Regu singa pasrah melihat tenda mereka yang sudah kemasukan air dan memilih
untuk mengamankan barang-barang mereka dan berteduh di gazebo. Sedangkan regu
serigala mengamankan barang-barang mereka terlebih dahulu dan melanjutkan
proses pemindahan tenda.
Setelah regu
serigala berhasil memindahkan tenda di tempat yang lebih tinggi, kedua regu
saling berbagi tugas. Regu serigala menggorengkan cemilan untuk menghangatkan
tubuh dan regu singa membuat minuman yang juga memiliki tujuan yang sama yaitu
menghangatkan tubuh.
Singkat
cerita kedua tenda sudah bisa dipakai untuk menjadi tempat beristirahat alias
tidur. Mengetahui hal tersebut kedua regu berusaha membuat api unggun meski pun
gagal dan makan malam bersama di luar tenda. Setelah makan malam ada obrolan
panjang yang sebenarnya hanya haha hihi saja tapi berlangsung cukup lama hingga
hampir menyentuh pukul 3 pagi.
Hampir
semuanya bangun jam 5 pagi. Hal tersebut bukan karena semuanya adalah morning
person, melainkan tidak nyenyaknya tidur malam. Saya sendiri merasa tidak
nyenyak karena tiba-tiba suhu menjadi dingin dan saya memilih untuk bangun
sambil berkeliling tempat kemah untuk mencari pemandangan yang bagus. Ya,
minimal kalau badan gerak itu bisa membuat badan tidak terlalu dingin. Teoriku
lo ya.
Mungkin cuma
itu saja yang bisa saya ceritakan mengenai perkemahan ini. Saya dapat pelajaran
banyak seperti harus segera mengambil keputusan ketika semuanya tidak berjalan
sesuai rencana, segera beradaptasi dengan cuaca dan suhu yang tiba-tiba berubah
drastis, serta mengurungkan niat untuk melakukan perjalanan jauh menggunakan
motor karena pantat saya jadi sakit tidak karuan.
Komentar
Posting Komentar