Fajri yang Kadang-Kadang Mengejutkan
Tepat seminggu yang lalu, tanggal 27 Januari 2024,
temanku bernama Fajri membuat sebuah special show atau pertunjukkan istimewa
dengan judul Kadang-Kadang, Kadang Begini, Kadang Begitu. Sebuah pertunjukkan
standup yang dilangsungkan di kotanya sendiri, yaitu Jombang. Aku akan berusaha
me-review special show Kadang-Kadang, Kadang Begini, Kadang Begitu ini dengan
sudut pandangku sebagai penonton.
Akan aku jelaskan sedikit mungkin apa itu special
show karena kemarin sempat me-review beberapa special show milik beberapa
temanku juga. Jadi, special show di sini adalah sebuah pertunjukkan yang khusus
dimiliki oleh seseorang. Karena inti dari pertunjukkan tersebut adalah
penampilan dari yang punya hajat alias yang punya show tersebut. Seperti
misalnya temanku si Fajri ini, membuat sebuah pertunjukkan spesial yang
penampil utamanya adalah dia sendiri nantinya di penghujung acara. Seperti itu,
Fren. Semoga membantumu dalam menambah wawasan yang tidak ada gunanya ini.
Show ini dimulai pada pukul 7 malam kalau tidak
salah. Atau mungkin telat sedikit. Aku lupa pastinya. Dibuka dengan dua MC dari
komunitas Standupindo Jombang, yaitu ada Mas Widha dan Cak Ukil. Aku sudah lama
mengenal Mas Widha ini, beliau sangat tenang dan tidak panik ketika berada di
atas panggung. Selayaknya seorang Capres yang begitu diserang kiri-kanan tetap
berpikir jernih. Sedangkan Cak Ukil ini adalah orang baru dalam skena standup.
Tapi, kalau masalah komedi dan ilmu panggung jangan ditanya. Beliau adalah seorang
pelawak tradisional yang harus diambil ilmunya oleh beberapa komika untuk
belajar, termasuk aku sendiri.
Kedua MC tadi di awal mungkin agak sedikit canggung
karena penontonnya memang belum cari. Tapi, semakin lama acara berlangsung,
mereka seperti menemukan celah untuk meng-handle penonton. Apa Bahasa Indonesia
dari meng-handle ini? Kenapa tiba-tiba penulisan Bahasa Indonesiaku jadi buruk
begini? Tapi, ya, sudah. Memang harus diakui jam terbang adalah segala-galanya.
Hormat untuk Mas Widha dan Cak Ukil.
Lalu, show dilanjutkan dengan penampilan dari dua
komika lokal Standupindo Jombang. Ada Hawin dan Lukman. Hawin di sini
membawakan keresahannya sebaga guru honorer. Keresahan yang sangat terasa
untukku karena di setiap candaan yang disuguhkan ada beberapa pesan bahwa
sebenarnya guru harus lebih diperhatikan lagi. Hawin membahas keluh kesahnya
sebagai guru honorer ini yang kerjaannya tidak sebanding dengan upah yang dia
terima.
Berikutnya, ada komika Standupindo Jombang bernama
Lukman. Lukman kemarin membahas pekerjaan sebagai orang yang menjual batu
nisan. Pekerjaannya ini pernah mendapatkan keuntungan yang besar ketika covid
melanda seluruh bumi. Tapi, sekarang, semenjak covid sudah tidak seberbahaya
dulu, dia harus memutar otaknya agar batu nisan yang menjadi sumber penghasilan
utamanya dalam hidup ini bisa laku kembali. Sebuah cerita yang sangat
menggelitik, memiliki sudut pandang yang unik, dan dibawakan dengan ciamik.
Tidak hanya komika dari Standupindo Jombang, ada
juga penampilan dari beberapa teman Fajri di Standupindo Surabaya. Bayu Yatno
dan Fuad Sasmita adalah komika Standupindo Surabaya yang ikut berpartisipasi
dalam pertunjukkan tunggal dari Fajri ini. Bayu Yatno menceritakan tentang
bagaimana kehidupannya sebagai seorang penjaga warung dalam menghadapi beberapa
pelanggan yang sering berkunjung ke warungnya. Salah satu hal yang menurutku
jenius, karena Bayu berhasil memeras bahasan tersebut sampai kering. Dibawakan
dengan riang gembira, membuat penonton jadi merasa nyaman untuk mendengarkan
keluh kesahnya.
Penampil berikutnya adalah Mas Fuad Sasmita. Seorang
komika yang terkenal dengan konten Maduranya serta beberapa kontroversi yang
diperoleh dari kontennya yang me-review kampus yang ada di Surabaya. Mas Fuad
di sini menunjukkan kepiawaiannya dalam mengolah sebuah topik yang harusnya
kita semua tahu dia akan membahas tentang apa. Topik bahasannya ini
sangat-sangat bisa diterima karena topiknya adalah membahas Madura dan
bagaimana sudut pandang orang terhadap Madura. Sebuah ide brilian ketika membedah
sebuah topik hanya dengan membalikkan sudut pandang saja.
Sebelum ke penampil utama, ada penampilan juga dari
Faizal. Temanku dari Jombang yang memiliki sebuah pengalaman berharga ketika
mampu mengikuti kompetisi televisi di Jakarta. Sangat menikmati penampilannya,
sampai aku lupa dia membawa materi apa. Setelah aku menghubunginya lewat
WhatsApp, aku baru ingat materi apa yang dia bawa. Dia bercerita tentang
kondisinya di umur yang ke-27 dan merasa sedang tertinggal oleh waktu. Dia
masih asik dengan dirinya sendiri, masih terus memuaskan kenakan-kanakannya,
sampai tidak sadar sekarang usianya sudah dewasa. Cerita yang sangat-sangat
relate untuk beberapa orang yang mungkin sampai saat ini masih berkutat di hal
yang sama. Harus kuakui, aku masih harus belajar banyak darinya karena ilmu
yang dia miliki benar-benar kubutuhkan. Rispek bertubi-tubi untukmu, Faizal.
Terakhir, sang penampil utama, hidangan yang
dinanti-nantikan, pemilik show atau pertunjukkan seutuhnya, Fajri MRP. Sebuah
pertunjukkan standup yang menurutku luar biasa. Aku sebagai penonton ikut
merasakan apa yang dirasakan, ikut terbawa emosi yang disampaikan, dibuat
campur aduk. Pertama dia membahas tentang kisahnya sebagai komika yang sudah
sembilan tahun berada di lingkungan standup dan ketakutannya dalam membuat show
tunggal ini. Keresahan yang sebenarnya juga aku rasakan sebagai seorang komika,
tapi siapa sangka kalau para penonton yang hanya mendengarkan ceritanya juga
ikut ke dalam arus yang dibawa Fajri. Kegetirannya sebagai komika lawas dan
satu-satunya pencapaian yang bisa dibuat dalam waktu ini adalah sebuah
pertunjukka ini. Lika-likunya dalam membuat show ini serta ketakutan-ketakutan
yang harus dia hadapi sebagai pemilik acara.
Fajri juga menceritakan tentang pekerjaannya
sekarang sebagai guru di SLB. Sebuah pekerjaan yang tidak biasa tentunya dengan
pembawaan yang haru. Membuatku terus merinding ketika mendengarkan ceritanya,
dibawakan dengan haru, tapi aku sebagai penonton juga bisa tertawa. Perasaannya
tumpah ketika dia membahas murid-muridnya yang kadang tidak dianggap sebagai
seorang manusia. Dia sebagai guru cuma ingin murid-muridnya dianggap sebagai
orang normal pada umumnya. Aku terharu mendengarkan cerita itu. Benar-benar
sedih dan nyelekit karena pesannya sampai dengan komedi.
Harus diakui bahwa show Kadang-Kadang, Kadang
Begini, Kadang Begitu ini layak menjadi salah satu show yang harus atau wajib
ditonton. Aku selaku penonton cuma bisa dibuat terpana dengan show ini. Terlalu
megah dan menyilaukan untuk seseorang sepertiku. Terakhir, selamat untuk
temanku, Fajri. Aku akan terus menunggu cerita-ceritamu yang lain.
Komentar
Posting Komentar