Entah Apa Judulnya
Baru bisa menulis lagi setelah beberapa kejadian buruk menimpa. Sebenarnya, aku tidak punya pacar. Aku harus akui bahwa pacarku sampai di usia saat ini cuma dua. Tahun 2025 kemarin aku bertemu dengan salah satu wanita yang bisa dibilang sangat cocok denganku. Menurutku, ya, hehehehe. Kami bertemu dengan tidak sengaja karena kami adalah teman dari salah seorang yang temannya banyak banget. Nah, salah dua temannya temanku ini adalah aku dan dia.
Saat itu aku diajak ke sebuah coffee shop untuk nongkrong. Aslinya males banget karena di hari yang sama aku menghadiri acara anak-anak bola di kotaku. Mereka bermain fun football dengan berdandan casual, ada space untuk membaca buku, ada juga untuk sharing pengetahuan musik seputar dunia bola (terutama Britpop). Setelah itu, aku baru ke coffee shop yang dituju temanku ini. Ternyata dia membawa temannya yang, cieilah malu aku hahahaha.
Entah bagaimana, obrolan kami nyambung banget. Bahkan, dia sempat membaca zine yang aku bawa dari acara anak-anak bola itu. Zine yang bahkan isinya sekumpulan cerita, harapan, dan doa-doa terpendam suporter sepakbola yang mungkin tidak banyak peminatnya. Anjay. Cukup kaget juga karena ternyata wawasan musiknya luas juga.
Selang beberapa waktu kemudian, entah bagaimana ceritanya, kami intens mengobrol lewat DM Instagram. Mengobrol banyak hal sampai melanjutkan untuk bertemu dan lagi-lagi cuma ngobrol aja. Aku juga bingung kenapa, tapi aku merasa seperti, “kok nyambung terus, ya?”. Semua topik mengalir begitu saja. Setiap hari pun kami kadang menyempatkan waktu untuk ngobrol meski cuma via telepon.
Banyak sekali yang kami obrolkan hingga suatu ketika aku jadi tau bahwa dia ternyata anak seni. Pantes kalau pengetahuan musik dan seni-seni lainnya luas banget. Kenapa dia menyempatkan waktu sebentar untuk membaca zine yang aku bawa pada hari pertama bertemu pun karena ternyata dia maniak membaca hahahaha. Aku merasa kerdil waktu itu. Aku sendiri sering nge-like unggahan yang kadang sering menyindir orang yang tidak rajin membaca akan jadi polisi itu justru jarang membaca hahahahaha.
Ketika aku bersama dia, aku merasa seperti ada dan dibutuhkan setiap harinya. Maksudku, kami tidak pernah ribut besar tentang apa saja meski beda pendapat. Bahkan dia memujiku hanya untuk hal-hal bodoh seperti kegemaranku dalam membaca artikel-artikel pendek tentang sepakbola yang mungkin menambah wawasanku soal sepakbola, membaca komik, menonton anime, atau membaca trivia-trivia dan beberapa ensiklopedia mengenai komedi, sejarah yang tidak begitu penting, musik, dan lain sebagainya. Dia bilang itu bagus, wawasan dan pengetahuan. Aku merasa kayak, “anjay, ada juga yang bilang hal-hal ini berguna. Siapa coba yang menganggap menghapal nama-nama pemain sepakbola seperti Ridouane Barkouwi itu akan berguna?”. Hahahaha.
Semuanya berjalan baik-baik saja. Meski pun kadang aku menghindar ketika topik mulai masuk ke ranah agama dan keyakinan karena kami berbeda. Dia adalah salah satu penghayat atau penganut kepercayaan. Awalnya, aku pikir bisa saja dia yang pindah ke agamaku, tapi setelah mengenalnya lebih jauh aku merasa itu tidak bisa. Pertama karena aku PAHAM AGAMA BANGET alias nol hahaha. Kosong aku kalau bahas agama karena mungkin sudah terlalu jauh diriku ini tenggelam ke lobang yang entah kapan aku bisa menemukan cahaya-Nya.
Kedua, dia memang taat sama ajaran yang dia anut dan dia juga aktif dalam kegiatan-kegiatan keagamaan di kalangan sesama penghayat. Aku merasa kalau tidak mungkin karena dia memang seteguh itu. Aku tidak berani mengganggu apa yang dia percayai. Aku merasa jahat banget kalau semisal dia pindah ke agamaku. Bahkan, dia pernah bilang bakal pindah agama hanya untuk urusan menikah ketika topik ini muncul. Aku tidak sanggup hidup seperti itu. Bisa dibilang keluargaku adalah keluarga yang agamis sekali. Aku tidak siap melihat reaksi keluargaku ketika tau bahwa dia adalah penghayat. Bisa dibilang aku juga jahat semisal dia pindah agama hanya di KTP karena itu pasti akan sedikit berpengaruh ke hidupnya.
Pikiranku terlalu kacau saat itu untuk memikirkannya. Aku merasa jahat sekali semisal itu terjadi. Kalau aku pikir-pikir terus, aku tidak pernah menemukan jawaban yang pas dan aman. Atau jawaban yang mungkin win-win solution bagi kami berdua dan tidak ada yang tersakiti semisal kami memilih itu. Semakin dipikirkan, malah semakin meledak kepalaku. Aku merasa itu adalah bom waktu yang mungkin ledakannya akan besar sekali kalau ditunda-tunda jawabannya.
Karena pikiranku yang belum matang ini, karena aku yang masih childish ini, karena aku yang pecundang ini, karena aku yang takut dengan berbagai hal ini, aku memilih jalan pintas. Aku memilih untuk memutuskan hubunganku dengan dia. Bodoh? Sangat. Padahal menemukan orang yang seirama, sefrekuensi, sevisi pun susah sekali, tapi aku lepas begitu saja. Entahlah, aku juga tidak paham dengan pikiranku ini. Sial. Aku bodoh dan jahat. Aku ulangi, aku adalah orang yang bodoh dan jahat.
Setelah kami tidak berhubungan, aku sering melihat beberapa post-nya di media sosial. Rata-rata memang galau. Mungkin akunya saja yang geer atau bagaiamana, entahlah, tapi aku merasa sedih. Aku tidak tega melihatnya tersiksa seperti itu. Tapi, lagi-lagi pikiranku bertarung. “Bagaimana kalau ternyata bersama adalah keputusan yang salah? Bagaimana kalau memang ledakan itu benar-benar besar?”. Entahlah. Aku tidak tau mana yang benar atau salah, tapi yang pasti aku adalah orang yang jahat. Aku justru melukainya.
Dan jujur saja, setelah itu aku aslinya juga bingung mau ngapain. Kayak flat aja hidup. Gak ada yang spesial, gak ada yang bagaimana-bagaimana juga. Hidupku cuma ada kerja dan tidur saja. Berulang-ulang tanpa bisa merasakan satu momen yang berharga. Mencoba jajan juga tidak terasa bagaimana-bagaimana. Pikirku, “oh, jajan cuma buat ngemil aja, ya? Aku pikir seenak itu.” Biasanya aku bisa menghabiskan banyak waktu untuk menonton anime atau main game Football Manager, tapi entah kenapa aku sekarang males banget nontonnya. Aku juga males main Football Manager. Biasanya aku senang, sekarang kayak, “gitu lagi, gitu lagi. Boring.” Hidup macam apa ini? Hhahahaha.
Aku tidak tau, habbit hidupku mulai rusak juga. Banyak pelarian yang aku coba dan salah satunya adalah ketagihan memegang HP. Aku ketagihan untuk membuka media sosial. Aku bisa membukanya dari bangun tidur sampai aku tidur lagi. Aku tau itu tidak baik, tapi entah kenapa aku selalu saja begitu. Aku merasa ketergantungan dengan media sosial ini juga parah efeknya untukku. Aku jadi sering larut malam tidurnya, sering terlambat bekerja, plonga-plongo ketika diajak untuk berdiskusi, susah fokus.
Banyak hal-hal bodoh yang aku coba untuk merubah habbit buruk ini. Aku pernah coba untuk rutin jogging. Kadang cuaca memang jadi kendalanya. Tapi, ketika cuaca lagi bagus pun aku memilih berbaring di kasur. Aku merasa kayak, “buat apa gitu-gitu? Capek.” Aku mencoba menonton kembali anime favoritku dan lagi-lagi sama. “Bosen.” Aku seperti capek dengan diriku sendiri juga. Aku juga tidak ingin seperti ini terus, tapi kenapa?
Hingga pada akhirnya, kesendirian ini kembali. Setelah sekian lama, aku kembali merasa sepi. Dulu ketika kesepian, aku biasa saja. Sekarang, seperti ada yang mengganjal. Aku tau ini mungkin dibilang alay, tapi aku benar-benar merindukan sapaannya. Walaupun cuma nanya tentang bagaimana cara aku melalui hari ini, membahas topik-topik yang lagi ramai di media sosial, atau membahas apa pun. Bahkan, hanya untuk ngobrol apa aja, meski aku gak tau mau ngobrol apa, pasti kalau sama dia ada saja topiknya.
Aku sadar bahwa selama ini aku tidak punya teman cerita yang satu frekuensi banget. Sampai aku nyaman menceritakan apa saja masalahku, apa yang sedang aku hadapi, atau apa pun itu. Ya, aku memang pria yang rapuh. Kadang, ketika aku sedang tidak baik-baik saja, dia juga yang selalu mendukungku. Karena dia selalu menganggapku ada, dia selalu mendengarkan semua keluh kesahku, dia selalu mendukung apa yang sedang aku usahakan, makanya menurutku dia adalah orang yang langka untuk aku temui lagi. Begitu pun dengan dia yang selalu menceritakan apa pun padaku. Apa pun ceritanya, pasti akan aku dengarkan. Aku tidak peduli bagaimana ceritanya akan berakhir, tapi aku senang dia mau membaginya padaku. Aku merasa bahwa dia mempercayaiku lebih dari aku sendiri. Aku yang kadang ragu ini kadang juga dikuatkan olehnya.
Tokoh Frieren dalam anime Sousou no Frieren adalah tokoh yang baru saja merasakan arti kebersamaan setelah tokoh bernama Himmel tiada. Dia mulai mengerti apa maksud perkataan dan perbuatan Himmel di masa lalu. Dia mulai menulusuri jalan yang pernah ia lalui bersama Himmel. Dia mengenang semua kenanganannya dengan baik di dalam kepalanya. Dia selalu berucap, “Himmel pasti senang dan akan melakukan itu.” Dan aku adalah Frieren itu. Aku sekarang mencoba untuk sering membaca buku meski pun kadang aku kesusahan dalam mencerna kalimat yang rumit. Aku mulai mendengarkan lagu-lagu yang dia rekomendasikan. Aku mulai mencari-cari spot yang dulu katanya ingin dikunjungi. Kadang aku membayangkan seandainya kita berada di tempat yang sama, cerita apa yang akan dia ceritakan, ya? Seseru apa dia melalui hari-harinya itu? Apa lagi masalah yang dia sedang hadapi sekarang? Apakah orang-orang yang dia ceritakan padaku dulu sudah membayar utangnya? Hahahahaha. Bodoh banget dia. Bisa-bisanya ngutangin orang dengan mudah.
Aku tidak tau apakah aku bisa melalui ini, tapi aku yakin dia pasti akan bilang “bisa.” Terima kasih, ya, karena selalu membuatku benar-benar dibutuhkan dan bisa diandalkan karena selama ini aku selalu berpikir bahwa aku tidak berguna bagi siapa-siapa. Terima kasih sudah pernah mengisi ruang kosong, gelap, dan muram itu. Meski cuma sebentar, kamu setidaknya sudah memberikan banyak warna di ruang itu. Maafkan aku yang pengecut dan tidak berani ini. Seharusnya aku bisa lebih berani mengambil resiko, tapi sayangnya aku kalah dengan ketakutanku sendiri. Maaf kalau tulisannya jelek, tidak rapi, dan terlalu singkat karena aslinya masih banyak lagi yang bisa ditulis di sini hahahaha.
Mungkin segini saja ceritanya. Aku tidak tahan untuk menulis sambil mengucek-ngucek air mata hahahaha. Cengeng sekali aku. Da-da!!!
Komentar
Posting Komentar