Gak Semuanya Harus Sesuai Standarmu

 

Judulnya terlalu universal, ya? Malah bisa blunder cuma karena judulnya saja. Tapi, di sini aku mau membahas tentang opini orang-orang yang menurutku memaksakan sekali. Sebenernya aku sendiri juga takut untuk mengatakan hal ini karena bagi anak-anak muda di jaman sekarang, yang mereka ini sangat liberal sekali, kadang aku yang konservatif ini dicap aneh. Ya, memang kenyataannya begitu. Tapi, ya, sudahlah akan aku tulis menurut apa yang aku yakini dan percayai.

Harus aku akui bahwa di platform X atau yang dulu dikenal sebagai Twitter memang banyak sekali orang-orang progresif. Opini-opini mereka yang mereka tuang dalam bentuk tweet sering kali menimbulkan tweet war. Salah satunya adalah opini yang baru saja mereka lontarkan yaitu mengenai queerphobic dan homophobic. Mereka berpendapat bahwa anak-anak skena yang berbusana alternatif atau punk tapi ternyata mereka adalah queerphobic atau homophobic mending tidak usah berbusana seperti itu lagi. Hal yang mendasari itu adalah karena memang budaya punk atau alternatif itu lahir untuk menyuarakan hak-hak minoritas yang salah satunya adalah kaum LGBT.

Ya, memang benar kalau budaya alternatif dan punk memang dipakai untuk melindungi kaum tertindas yang terkadang mereka juga adalah minoritas. Maksudku, gak semua-semuanya harus sama gitu, loh. Misal, ada orang yang berbusana sangat punk, dia setiap hari menyuarakan tentang hak-hak masyarakat yang tanahnya digusur oleh pemerintah dengan semena-mena tapi cuma gara-gara dia menolak untuk menyuarakan hak-hak LGBT langsung disuruh tidak usah menjadi punk lagi gitu? Apa salah jika ada orang berbusana alternatif atau punk yang tidak menyuarakan hak-hak LGBT karena dia patuh terhadap ajaran agamanya? “Punk kok solat.” Emang salah?

Itu sama aja kayak ngatain orang yang memakai kaos band dan tidak tau lagu-lagu dari band tersebut. Kenapa? Kan, dia gak salah juga. Dia beli original, dia juga menghidupi band tersebut, lalu salah cuma gara-gara tidak tau band-nya? Aku juga berpikiran bahwa kalau aku beli kaos band setidaknya aku harus tau lagu-lagunya. Tapi, semisal ada orang yang tidak tau lagunya juga tidak masalah buatku. Tidak ada pengaruhnya di hidupku. Selama dia senang, ya, silahkan.

Nah, hal tadi juga berlaku ke kasus tentang queerphobic dan homophobic tadi. Emang kenapa kalau menolak? Salah, kah? Maksa banget orang-orang harus menyuarakan apa yang sedang mereka perjuangkan. Karena urgensinya di negara ini pun masih belum ada juga. Hal-hal berbau budaya akan jelas kalah kalau diadu dengan hal-hal berbau politik yang bisa merugikan banyak orang. Urgensinya udah beda.

Mungkin opini ini terlalu muter-muter gak jelas atau gimana, aku sendiri juga bingung hahahaha. Udah ngantuk dan kepikiran besok masuk kerja. Udah segitu aja, terima kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Entah Apa Judulnya

NRIMO ING PANDUM ALA THE JEBLOGS

Maafkan Aku