Liverpool yang Gak Nggetih Musim Ini
Sebenarnya
waktu mau menulis ini pun kepikiran apakah nantinya bakal dicap sebagai “si
paling pundit” atau “si paling paham bola” atau mungkin “si paling Liverpool”.
Jadi, alangkah lebih baik kalau aku tegaskan ini cuma berdasarkan uneg-uneg
yang selama musim 2025-2026 ini mengganjal di kepalaku. Berawal dari pertanyaan
yang terus menerus ‘ku cari jawabannya ketika melihat Liverpool bermain buruk.
Mungkin sebagian fans Liverpool yang lain juga merasakan hal serupa, tapi
mungkin sebagian yang lain gak merasakannya.
Awalnya, aku
merasa bahwa performa Liverpool buruk di awal musim itu adalah hal yang wajar.
Banyak pemain baru dan harus membuat taktik yang membuat mereka bisa beradaptasi
di Liga Inggris. Ya, aku awalnya merasakan itu biasa saja. Bahkan, sampai
sekarang pun aku masih menancapkan pemikiran bahwa Liverpool juara di musim
kemarin adalah sebuah keberuntungan. Kenapa? Harus diakui kalau beberapa tim
besar di musim lalu mainnya gak konsisten dan Liverpool selalu menang dengan
permainan yang aslinya gak bagus-bagus amat. Dan performa Liverpool musim ini
semakin menunjukkan bahwa opiniku soal juara musim lalu adalah keberuntungan
itu benar adanya.
Semakin ke
sini, jujur saja, aku semakin gak menikmati permainan Liverpool. “Ah, itu gagal
move on sama Klopp.” Ya, benar. Bukan hanya era Klopp saja, ada beberapa
pelatih lain, salah satunya Sir Kenny, yang membuatku ada alasan mengapa aku
harus nonton. Atau era Rodgers ketika Liverpool hampir juara dengan finish jadi
runner up. Ada alasan untuk menonton setiap match, ada alasan kenapa aku kesal
ketika melewatkan match Liverpool. Jawabannya cuma satu, permainan Liverpool
waktu itu menarik. Ya, cuma itu jawabannya. Mungkin terdengar seperti omong
kosong, tapi memang benar begitu adanya.
Jaman Kenny
menahkodai Liverpool di musim 2011-2012 permainan begitu menarik. Melihat
nama-nama seperti Charlie Adam atau Stewart Downing atau bahkan Maxi Rodriguez
yang aslinya bukan pemain kelas atas bisa berkontribusi 100% untuk Liverpool
saat bertanding benar-benar membuatku terhibur. Era Rodgers ketika Liverpool
mampu mengalahkan Stoke City dengan skor 3-6, benar-benar menghibur. Bukan
karena bisa mencetak gol sebanyak-banyaknya, tapi soal bagaimana pemain
Liverpool yang terus berlari, terus memberikan semuanya sebelum diganti atau
waktunya habis, tentang bagaimana Liverpool yang “nggetih” aatau dalam Bahasa
Indonesia mungkin bisa dibilang berdarah-darah. Itu semua semakin jelas ketika
Klopp masuk. Bukan memaksa pemain untuk melakukan pressing selama 90 menit,
tapi bagaimana sepakbola itu ditonton dengan rasa senang. Meski pun kalah kalau
mainnya bagus pasti aku yakin semua orang akan mengamini doa yang sama, yaitu
semoga di match berikutnya bisa meraih hasil maksimal dengan usaha seperti itu.
Aku juga
tidak memaksa Liverpool untuk melakukan serangan full selama 90 menit tanpa
henti. Bukan. Memang ada kalanya melawan tim yang jauh lebih kuat pun bermain
mengandalkan counter itu perlu. Tapi, setidaknya dengan melakukan counter yang
tepat bisa membuat kesempatan mencetak gol itu ada.
Masalahnya
hal-hal tadi tidak aku rasakan di Liverpool era Arne Slot ini. Bahkan ketika
musim lalu menjadi juara pun aku merasa permainan Liverpool itu bikin ngantuk.
Tidak ada gairah atau gregetnya juga. Kadang aku pernah ketiduran ketika
menonton Liverpool era Arne Slot ini. Bukan sengaja tidur karena mengantuk yang
akhirnya memilih tidur dari pada menonton, tapi yang benar-benar ketiduran
ketika menonton. Saking membosankannya sepakbola Liverpool di tangan Arne Slot
ini.
Aku tidak
menuntut Arne Slot untuk memenangkan seluruh pertandingan dan membuat Liverpool
menjadi juara lagi. Gak begitu. Aku cuma mau Arne Slot mengembalikan gairah
yang selama ini dimainkan Liverpool. Tidak perlu bermain press tinggi seperti
yang dilakukan Klopp, tidak perlu banyak long ball seperti yang dilakukan Kenny
Dalglish, atau apa pun itu. Cukup dengan cara Slot sendiri.
Kalau
ditanya harus bagaimana? Menurutku itu biar Slot saja yang memikirkan.
Bisa-bisanya sekarang nonton Liverpool aku ketiduran karena tempo yang lambat
dan monoton alias gak ada kejutan dari serangan-serangan Liverpool sekarang.
Tidak hanya
itu, kadang menurutku Arne Slot ini kurang berani atau kurang percaya kepada
seorang pemain. Padahal menurutku, karena ini permainan tim, tidak ada salahnya
dicoba. Hal-hal seperti jarang memainkan Chiesa, menjual Quansah, meminjamkan
Elliot saja sudah membuatku geleng-geleng. Maksudku, apa alasan dia hanya
percaya dengan pemain yang itu-itu saja. Jaman Klopp, bisa saja kadang pemain
dirotasi. Mungkin pada sebuah match gelandang yang dipakai ada Henderson,
Milner, dan Wijnaldum. Ada juga pertandingan lain yang justru memakai
Chamberlain, Shaqiri, dan Keita. Bisa juga Curtis Jones, Fabinho, dan Milner.
Maksudku, setidaknya dengan pemain starter beda, bisa menciptakan gaya
permainan yang berbeda meski roots-nya nanti sama.
Sekarang
secara lain-up saja aku bisa menebak 90% nama-namanya meski menutup mata.
Kenapa bukan Chiesa yang coba dimainkan. Atau mungkin nyoba Wataru Endo yang
kokoh dalam bertahan di bagian tengah.Pertanyaanku cuma “kenapa?” Apa yang
mebuat Slot tidak berani mencoba pemain-pemain yang dia punya sekarang?
Jadi,
kesimpulannya aku ingin Arne Slot mencoba memainkan pemain yang dia punya,
mencoba lebih agresif atau berani, dan mencoba untuk tidak monoton. Bukankah
sebaiknya mencoba dari pada tidak mencoba sama sekali?
Komentar
Posting Komentar