Kenapa Sekarang Tidak Seperti Bayanganku Dulu?
Dulu, waktu masih kecil ngelihat orang kerja itu kayak enak aja. Mereka kerja, mereka bisa beli apa aja yang mereka suka dengan gaji atau upahnya. Hampir semua anak seusiaku dulu selalu bermimpi agar cepat kerja agar bisa membeli barang impiannya dengan uangnya sendiri. Bahkan anak-anak seusiaku dulu seperti punya target kalau akan punya rumah di usia berapa, punya mobil di suai berapa, menikah di usia berapa, dan punya anak di suia berapa. Semua tampak menyenangkan ketika masih dalam bentuk angan-angan atau impian.
Sekarang, kenyataannya tidak seperti bayanganku dan teman-teman semasa kecilku dulu. Aku memang sudah lama tidak berbincang dengan mereka, tapi entah kenapa aku yakin mereka pun pasti sama halnya denganku yang bisa hidup aja udah bersyukur. Bukan berarti tidak bisa menikmati hidup, cuma kenapa kenyataannya jauh dari apa yang kami bayangkan dulu. Perasaan dulu kelihatan susah banget kalau nabung dua ribu rupiah hanya untuk main PS 2 satu jam,. Sekarang? Uang segitu gak akan kepakai untuk rental PS 3 atau PS 4.
Semakin ke sini juga aku merasa bahwa hal-hal yang menurutku dulu itu adalah hal yang wah dan sulit digapai malah seperti biasa saja. Justru ada keinginan untuk bisa meraih sesuatu yang lebih tinggi lagi dari apa yang aku impikan ketika masih kecil, ketika masih menjadi abege, atau ketika sudah menjadi remaja. Nafsu yang seperti tidak ada habisnya. Aku sekarang ada di fase harus menahan itu semua dan memilah-milah mana yang sekiaranya nanti berguna dan mana yang tidak. Seperti menyortir barang-barang sebelum nantinya akan dikirimkan.
Contohnya. Dulu, sewaktu kuliah, makan mie ayam itu terasa enak banget. Hasil jerih payah nabung seminggu bisa kebeli mie ayam udah seneng bukan main. Sekarang belum tentu. Makan mie ayam itu kayak biasa aja gitu. Gak sesemangat dulu. Kenapa, ya? Apa karena aku kurang bersyukur dengan apa-apa yang telah aku capai? Atau bagaimana? Aku juga gak tau.
Tapi, di sisi lain memang kadang aku merasa tidak puas karena apa yang aku inginkan sewaktu masih kecil sekarang malah menjadi tidak spesial karena nominalnya yang semakin tergerus. Dulu, aku sering bergumam, “enak kali, ya, bisa beli batagor cuma lima ribu dapet banyak.” Sekarang? Nominal segitu cuma dapet sedikit hahahaha. Gak banyak. Beli pentol corah aja sekarang harus lima belas ribu atau dua puluh ribu untuk dimakan rame-rame. Dulu lima ribu udah banyak banget. Apa karena itu aku jadi kurang bersyukur?
Entahlah, aku gak paham juga. Sekarang sedang berusaha untuk bersyukur ketika gak sengaja makan makanan random tapi enaknya bukan main, bersyukur masih diberi kesempatan untuk mencoba standup lagi bareng temen-temen komunitas, bersyukur masih bisa merasakan gaji yang gak seberapa itu untuk melanjutkan hidup, dan lain sebagainya. Semoga kalian juga bersyukur dengan apa-apa yang telah kalian capai dan sehat-sehat terus agar bisa mencapai hal-hal lainnya yang mungkin kalian idam-idamkan ketika kalian masih kecil dulu.
Komentar
Posting Komentar