TERLALU CEPAT

 

Kalau dibilang aslinya dari keluarga yang harmonis, kemungkinan tidak. Karena memang tidak seharmonis yang orang-orang kira. Papa dan Mama dulu sering bertengkar meski ujung-ujungnya nanti rujuk. Semakin dewasa aku semakin paham memang harus banyak yang diselesaikan sebelum akhirnya berani untuk hidup berdampingan selama-lamanya. Butuh komitmen, butuh pemikiran yang setidaknya satu visi, butuh yang satu frekuensi, butuh saling melengkapi, dan lain-lain. Tapi, bukan berarti Papa dan Mama tidak seperti itu. Kadang memang ego kalau sudah tersenggol, sulit juga untuk diredam.

Semua berjalan baik-baik saja hingga masuk masa SMA. Ketika pertengkaran hebat itu tidak bisa dihindari. Suasana di rumah jadi tidak enak. Waktu itu di rumah cuma ada aku, adekku, Papa, dan Mama. Pertengkaran itu membuat rumah jadi dingin karena ada uda kubu. Aku yang tidak bisa memihak ke salah satu, aku memilih untuk mencari pelarian waktu itu. Entah bagaimana caranya aku harus keluar dari rumah, mencari teman, mencari hal-hal yang mungkin tidak akan lagi aku temukan di rumah. Pada waktu itu aku merasa bahwa keberadaanku tidak sebegitu penting. Aku pulang sekolah, mandi, tidur, makan, lalu berangkat les atau kerja kelompok, pergi ke warung, lalu kembali pulang. Tidak ada yang menanyakan apa pun soal diriku, bagaimana sekolahku, apa yang aku inginkan ketika nanti kuliah, atau apa pun itu. Dingin.

Bagaimana tidak dingin? Aku bisa saja pulang malam jam 9 malam, tanpa dimarahi dan langsung makan lalu tidur sampai pagi. Tanpa ada pembicaraan sedikit pun di rumah. Bahkan, tampakmya kalau nilaiku jelek juga tidak akan ada yang memarahiku, mungkin, karena tidak terlalu penting juga keberadaanku di rumah. Keberadaanku di rumah akan terlihat kalau pertengkaran itu terjadi. Papa yang berusaha membujukku agar ikut dengannya nanti semisal kemungkinan bercerai itu terjadi dan Mama yang juga sama halnya membujukku untuk kembali ke kampung halamannya. Mendengar Papa dan Mama berbicara seperti itu denganku aku sungguh tidak siap. Sangat-sangat tidak siap. Aku benci itu, aku benci ada perpisahan, dan aku memilih untuk tidak memilih siapa pun pada waktu itu.

Menurutku itu adalah salah satu fase terburuk yang pernah ada di hidupku. Aku sampai mencoba merokok yang katanya bisa meredakan pusing di kepala karena di dalam kepala yang begitu ramai suara meski pun kita tidak berbicara sama sekali. Aku mencoba itu, berhari-hari, tanpa diketahui oleh orang tuaku. Mungkin pada waktu itu aku merokok hanya ingin menghilangkan stres yang aku pikul dari rumah, meski ujung-ujungnya aku memutuskan untuk tidak merokok setelah setahun kemudian.

Aku selalu berusaha mengupayakan apa pun agar aku bisa keluar dari rumah. Bertemu teman-teman dan nongkrong sampai lupa waktu, lupa kalau aku masih punya rumah. Karena suasana saat bersama teman-teman berbanding terbalik dengan apa yang ada di rumah. Ngobrol ngalor-ngidul, keberadaanku dianggap ada, ketawa-ketiwi, dan sejenak melupakan apa yang sedang terjadi di rumah. Sambat-sambat kecil tentang tugas sekolah yang kadang tidak masuk akal, membicarakan guru-guru dan kegiatan konyol yang kami lakukan di sekolah, bermain game di rumah teman dari pagi hingga sore, semuanya hanya untuk mencapai rasa bahagia yang pada waktu itu tidak aku rasakan ketika di rumah.

Aku mencoba untuk melakukan hal-hal nakal yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan seperti colut seharian alias tidak sekolah padahal awalnya menggunakan seragam sekolah. Mungkin terdengar biasa, tapi menurutku ini salah satu kenakalan yang pernah aku lakukan. Sudah mempersiapkan baju ganti agar tidak tertangkap Satpol PP. Aku dan seorang temanku pergi ke Masjid Agung yang ada di Alun-Alun untuk mengganti baju dan melakukan solat sunah, yaitu solat taubat hahahaha. Terdengar konyol. Meminta ampun karena kami akan pergi ke rental PS seharian. Tapi, pas pulang ke rumah, aku biasa saja seperti baru saja pulang dari sekolah, padahal tidak. Karena tidak ada yang peduli di rumah aku baru dari mana ketika sedang berada di luar.

Beberapa pelajaran di sekolah pada waktu itu semisal aku tidak tertarik atau tidak bisa, tidak akan pernah aku buka bukunya. Aku hanya belajar apa yang aku mau. Jadi, dulu aku sempat mendapatkan nilai-nilai ujian yang parah tanpa sepengetahuan orang tuaku di rumah. Aku pernah mendapatkan nilai Kimia 7 dari 100. Bukan 7 dari 10, tapi 100. Sangat bodoh, bukan? Hahaha. Untungnya tidak pernah ada cerita aneh dari guruku yang sampai ke telinga orang tuaku, atau mungkin aku berharap itu terjadi agar mereka peduli dengan kehidupanku waktu itu? Entahlah.

Singkat cerita, sudah memasuki masa kuliah. Aku dipaksa untuk kuliah di tempat aku tinggal, di kota sendiri. Suasana di rumah masih sama saja. Tidak ada yang berubah. Aku pergi mengerjakan tugas pun tidak ada yang menanyakan apa-apa kepadaku. Pulang larut malam dengan alasan tugas kuliah lebih sulit daripada tugas waktu sekolah mereka terima begitu saja. Orang yang pikirannya bukan tentang nanti lulus seperti apa dan mau hidup yang seperti apa ini hanya terus mengikuti alur yang entah ke mana arahnya.

Tibalah kejadian itu di semester 2 saat aku kuliah. Papa mendadak sakit dan membutuhkan perawatan sekitar seminggu di rumah sakit. Suasana di rumah sedikit berbeda karena mau tidak mau aku yang harus mengantar Papaku pergi untuk berobat, bahkan aku tidak sempat mengantakan Papaku ke rumah sakit pada waktu itu. Setelah pulang dari rumah sakit, Papa kembali masuk ke rumah sakit dengan keadaan yang lebih parah. Mama yang awalnya apatis, jadi orang yang sedikit peduli. Meski pun pada akhirnya Papa harus dilarikan ke rumah sakit dengan fasilitas yang lebih lengkap di Surabaya.

Setibanya di Surabaya, Mama adalah orang yang selalu merawat Papa. Perhatiannya tumpah semua, seolah-olah sebelumnya tidak terjadi apa-apa. Kadang Mama menangis karena tidak menyangka Papa terkena kanker stadium akhir. Mama juga orang paling kuat yang tidak menunjukkan sedihnya di depan Papa karena tau kalau dia menunjukkan sedihnya di depan Papa, mungkin keadaan Papa waktu itu langsung drop. Aku rasa Mama pada waktu itu adalah orang yang paling kuat, yang paling setia, yang mau menutupi semua kekurangan Papa. Bagaimana tidak kuat? Dia adalah orang pertama yang tau bahwa Papa tidak bisa sembuh karena kemoterapi hanya untuk memperpanjang usia hidup Papa.

Kenapa aku bisa bilang Mama adalah orang paling setia? Karena semua Mama lakukan sendiri. Mengantri untuk obat, semua keperluan Papa di Surabaya dia yang cari, tanpa motor atau kendaraan dia lakukan sendiri dengan berjalan kaki. Aku yang datang seminggu sekali saja kadang merasa capek harus wara-wiri, tapi Mama tidak pernah bilang capek pada waktu itu. Mungkin, Mama mengeluarkan seluruh tenaganya hanya untuk Papa yang pada waktu itu benar-benar membutuhkan pertolongannya.

Semua kekurangan Papa ditutupi oleh Mama. Mama merawat Papa yang tidak bisa berjalan dengan menuntunnya, memandikannya, bahkan pada waktu itu Papa yang terkena kanker usus dan tidak bisa lagi BAB dan BAK, harus dioperasi ususnya agar kotorannya bisa keluar dan menggunakan kantong di samping perutnya, kantong itu harus diganti tiap berapa kali begitu. Dulu seringnya pergi ke puskesmas kalau pas di Madiun, kalau pas di Surabaya minta bantuan perawat. Tapi, Mama mau belajar hingga bisa melakukannya sendiri. Gila!

Sayangnya, ketika suasana mulai hangat, hubungan antara Mama dan Papa mulai membaik, itu semua hanya berlangsung delapan bulan. Mama masih ingat ketika mengantarkan Papa terakhir kali ke Surabaya, katanya Papa menangis dan meminta maaf ke Mama. Sial, aku menulis ini sambil menangis. Papa meninggalkan aku, kakakku, adekku, dan Mama di Oktober 2018.

Dulu, setiap ke makam Papa, Mama selalu menangis. Aku berusaha untuk tidak menangis dan menenangkan Mama. Semakin ke sini, aku sering ke makam Papa sendiri dan menangis tanpa mengucapkan apa pun. Aku kangen Papa, tapi juga tidak terima kenapa masa-masa ketika Mama dan Papa benar-benar harmonis, benar-benar padu itu hanya delapan bulan. Kenapa?

Aku tidak tau harus mengakhiri tulisan ini bagaimana, tapi sedikit lega karena bisa mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini terpendam. Terima kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Entah Apa Judulnya

Maafkan Aku

UPDATE KEHIDUPAN