Talk to Who?

 

Setelah beberapa kali tidak berada di dekat rumah, seperti merantau ke Bojonegoro, Pacitan, dan sekarang di Ponorogo, aku baru sadar bahwa ada satu hal yang tidak bisa lakukan. Ya, benar. Aku tidak bisa bercerita ke sembarang orang. Mungkin ada sebagian orang yang menyangka bahwa hal-hal yang tidak bisa ku ceritakan  itu hal-hal sedih atau hal-hal yang membuatku menangis. Tidak. Tidak seperti itu. Karena sejujurnya ketika aku sedang merasa senang pun aku tidak tau harus membaginya ke siapa. Mungkin itu akhirnya aku mengerti tujuan adanya blog ini.

Masih ada beberapa kesinambungan dari cerita-cerita sebelumnya. Papa dan Mamaku dulu hampir bercerai. Itu sebabnya aku tidak tau harus memposisikan diri bagaimana di rumah. Dan hal itu juga yang membuatku tidak begitu dekat dengan orang tuaku. Aku baru bisa ngobrol dengan Papaku saja sebelum Papa sakit dan ketika Papa jatuh sakit. Saat-saat terakhir itu di mana aku nonton bola tengah malam ditemani, kadang aku sambat soal kuliah didengarkan. Terlihat mesra di akhir waktunya meski pun cuma sebentar.

Aku justru tidak bisa sama sekali ngobrol apa pun dengan Mamaku. Mungkin karena kami berdua sama-sama keras kepala dan kami sama-sama ngototnya, makanya seperti api bertemu angin yang membuat api tersebut makin besar. Aku sadar kalau Mama sering banyak bicaranya dan aku hanya mendengarnya saja. Karena beberapa kali aku nyoba nimbrung dan memberi sudut pandangku, Mama selalu berseberangan dengan pendapatku dan pada akhirnya kami ribut. Mungkin itu sebabnya sekarang ketika Mama udah ngomong menggunakan nada tinggi, aku malas untuk melawannya.

Posisiku yang kurang enak di rumah ini membuatku harus mencari ruang di luar. Masalahnya, semua teman-temanku yang biasanya aku nongkrong bareng mereka itu cuma ngobrol hepi-hepi aja. Kita cuma haha-hihi menertawakan hidup yang semakin ke sini semakin lucu dan tidak karuan arah dan muaranya. Kebanyakan obrolan kami pun kalau disimak dengan seksama cuma obrolan kosong yang lucu. Tidak ada isinya, tapi rasanya ada sebagian dari diriku yang lega. Aku bisa mengeluarkan sampah-sampah yang terpendam lama untuk ditertawakan.

Masalahnya muncul ketika aku tidak begitu memiliki kedekatan emosional dengan teman-temanku. Maksud dari kedekatan emosional adalah, aku seperti memberi jarak untuk membatasi beberapa obrolan atau topik. Aku cenderung menjauhi topik obrolan yang merupakan bentuk emosi kesedihanku. Dan aku baru menyadari ketika merantau dan sering sendiri, aku ternyata tidak punya media atau teman untuk menuangkan rasa sedihku. Makanya, ketika gelas berisi air kesedihan ini penuh, aku merasa dunia ini tidak berpihak kepadaku. Auraku mungkin jika dilihat orang akan seperti tertutup dan sangat gelap. Karena memang tidak semua orang ketika mengetuk pintunya, aku akan buka.

Aku pernah pergi ke Jogja sendiri naik motor dari Pacitan. Aku pernah pergi beberapa pantai di Pacitan sendiri. Bahkan aku sempat berpikir untuk pergi ke suatu tempat di gunung mungkin sendirian juga. Karena aku benar-benar tidak tau bagaimana cara melepas rasa sedih yang terus menumpuk ini. Mungkin blog ini adalah salah satu media yang bisa membuatku dengan terbuka dan sadar menulis apa saja yang sedang aku rasakan, tapi nyatanya ada beberapa hal yang tidak bisa aku ceritakan di sini.

Berpergian sendiri tidak membuatku bisa melepas rasa sedih yang sedang aku rasakan. Aku hanya lari dan berusaha menampiknya dengan menyendiri dan berusaha jauh dari semuanya. Jujur, kadang ketika melihat orang-orang yang berhasil menemukan orang yang tepat, orang yang bisa dijadikan tempat bersandar, tempat pulang, tempat berkeluh-kesah tentang apa pun, tempat untuk memberi dukungan ketika sedang terpuruk, aku sangat iri. Iri sekali. Aku juga sadar bahwa aku juga membutuhkannya. Tapi, apa daya? Aku saja belum selesai dengan diriku sendiri, aku masih insecure dengan keadaanku saat ini yang mungkin membuat orang-orang ketika berada di dekatku merasa tidak nyaman dan mungkin merasa kalau dalam istilah sekarang adalah”cowok bingung.”

Saat menulis ini, usiaku 28 tahun. Sudah dipastikan kalau semua orang yang aku dekati mungkin orang yang seusia, bisa lebih muda sedikit, atau lebih tua sedikit. Aku yakin mereka-mereka semua sudah melalui beberapa fase yang membuat mereka kokoh ketika menghadapi kehidupan ini. Ketika bertemu denganku, aku yakin mereka pasti merasa harus berhenti ketika sedang berlari unutk mengejar sesuatu. Aku mungkin cuma jadi hambatan-hambatan ketika mereka sedang berusaha berkembang dan menjadi individu yang berguna. Aku yang masa depan saja tidak tau, aku yang mungkin sudah kehilangan tujuan untuk apa aku harus terus hidup seperti sekarang ini pasti bagi mereka membingungkan. Mungkin juga mereka akan bilang kalau aku tidak dewasa sama sekali. Dan pasti mereka akan pergi begitu saja.

Sial, aku sebenarnya benci fase ini, tapi semakin aku tidak melakukan apa-apa juga waktu terus berjalan tanpa peduli aku akan bagaimana untuk menghadapi dunia ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Entah Apa Judulnya

Maafkan Aku

Dewi Fortuna Pasti Akan Datang, Kan?