Tuhan, Aku Mohon
Dulu, aku
merasa bahwa mengejar mimpiku untuk menjadi seorang komika sudah selesai.
Karena ada banyak hal yang harus aku urus dan tidak mungkin aku mengurusnya
dalam keadaan kantong kering. “Memangnya menjadi seorang komika itu kantongnya
kering?” Ya. Apalagi komika daerah sepertiku yang notabene jarang sekali
mendapatkan job atau tanggapan standup.
Aku berharap
dengan bekerja seperti sekarang, aku bisa setidaknya membantu keluargaku.
Gajiku tetap dan aku bisa terus memberi napas ke keluargaku. Aku juga tidak
membuat mama khawatir dengan hidupku. Aku mau mama merasa percaya pada
pilihanku, karena aku yang menjalani ini dan aku yang bertanggung jawab atas
diriku sendiri.
Aku merasa
bahwa standup sekarang cukup sekadar hobi saja. Cukup dijadikan pelampiasan
emosi agar aku tidak stres bekerja. Tapi, ketika standup begitu jauh dari
jangkauanku, aku begitu merindukannya. Aku merindukan circle-nya, bercanda
bareng, orang-orangnya, penontonnya, kegelisahan sebelum manggungnya, kebingungan
dalam membuat materi, dan lain-lain. Aku merasa bahwa kegiatan-kegiatan itu
seperti bagian dariku. Aneh? Aneh sekali. Padahal dampaknya di hidupku saja
tidak ada.
Hingga
tiba-tiba aku dipindahkan ke tempat yang berada di dekat rumah. Aku merasa bahwa
itulah momentum untukku mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini aku pendam. Aku
kembali menggerakkan teman-teman yang berada di komunitas untuk kembali aktif
dan menghidupi komunitas lagi. Memang sepertinya direstui, makanya sampai
sekarang terasa sangat happy sekali dan komunitasku juga berjalan dengan baik.
Tiba-tiba
terdengar jeritan-jeritan dari dalam hati, dari dalam pikiran. Jeritan-jeritan
ini terus bergema, memenuhi isi kepala dan membuat hatiku jadi tidak tenang.
Padahal mimpi itu sudah aku kubur, kenapa tiba-tiba muncul lagi dan terus
menggema? Jangan membuatku berharap lagi. Karena aku merasa sudah cukup karena
memang usahaku sudah selesai dan mentok sampai di situ saja.
“Apa benar
sudah mengeluarkan segalanya kemarin?” Sial. Aku merasa seperti belum memberika
usahaku seratus persen pada kesenian aneh ini. Kenapa harus tiba-tiba muncul?
Semakin didiamkan justru semakin nyaring bunyinya. Apa yang harus aku lakukan?
Karena
menurutku ini sudah terlalu keras suaranya, aku sampai berdoa.
“Tuhan, kemarin
aku meminta kepada-Mu agar aku diberi keikhlasan dan ketabahan karena sudah
melepas mimpiku. Kenapa sekarang mimpi itu muncul kembali? Apakah ini tanda
dari-Mu? Apakah memang harus aku lakukan lagi?
Tuhan, aku
tau dulu aku sempat terobsesi dan berusaha untuk mengejar mimpiku ini. Aku akui
itu adalah keputusan paling gila dan paling nekat di usiaku yang menginjak awal
dua puluhan itu. Tapi, jujur saja, saya senang melakoninya. Meski pun kadang
menangis karena merasa stuck dan tidak bergerak ke mana-mana.
Tuhan, jika
ini memang tanda dari-Mu, di usiaku yang sudah dua puluh sekian ini apakah
boleh aku mencobanya sekali lagi? Mungkin ini akan lebih gila dari keputusanku
yang dulu, tapi bolehkah aku mencobanya?
Keinginan itu,
mimpi-mimpi itu, terus menerus hadir dan terus berbunyi di dalam hati dan
pikiranku. Membuat jantungku sesekali berdebar ketika membayangkannya.
Tuhan, jika
memang Engkau restui, bantulah aku untuk menggapainya. Beri tau aku jalan mana
yang baik dan yang harus ku tempuh. Tuntun aku, Tuhan. Tuntun aku. Karena aku
cuma manusia biasa yang cuma bisa bermimpi karena belum dan tidak akan tau
hasilnya nanti. Sekali lagi, tuntun aku, Tuhan.”
Komentar
Posting Komentar