Sering Geer/GR/Gede Rasa
Geer atau GR
atau kepanjangan dari gede rasa ini adalah bahasa gaul yang artinya perasaan
yang terlalu besar atau berlebihan dalam hal apa pun. Tergantung situasi dan
kondisi kali, ya. Aku juga bingung menjelaskannya, tapi aku rasa aku adalah
orang yang pantas disematkan menjadi gelarku. Karena jujur saja, aku gampang
sekali geer hahahaha. Dan setelah sekian lama aku men jawabannya, akhirnya aku
menemukan jawabannya dari obrolan yang tidak terduga.
Berawal dari
obrolanku bersama teman kantor bernama Mbak Arlita, aku langsung tau
jawabannya. Jadi, saat itu Mbak Arlita ini sedang curhat tentang anaknya.
Katanya, anaknya ini pernah dipalak di sekolah, tetapi anaknya tidak merasakan
bahwa itu adalah sebuah pamalakan atau pemerasan. Anaknya Mbak Arlita memliki
kesimpulan bahwa siapa tau murid lain yang sedang memalaknya ini memang orang
tuanya lagi susah dan akhirnya tidak bisa memberikan temannya itu uang jajan.
Mbak Arlita bingung bagaimana bisa anaknya memiliki kesimpulan seperti itu.
Setelah Mbak Arlita mencari tau, jawabannya adalah tangki cinta anaknya yang
penuh dan sudah diisi oleh Mbak Arlita dan suaminya.
Singkatnya,
tangki cinta anaknya ini diisi oleh kasing sayang Mbak Arlita dan suaminya
serta keluarga besarnya. Jadi, karena di dalam rumah, di lingkungan keluarga
dia merasa aman, dia menganggap semua yang ada di dunia ini baik-baik saja.
Lingkungan yang positif, membuat anaknya juga selalu berpikir positif. Nah,
jawaban inilah yang membuatku ketika balik ke kos kayak merasa ada sesuatu yang
sama. Dan mungkin juga itulah yang membuatku merasa gampang geer.
Mungkin kalau
ada yang belum membaca cerita sebelum ini, akan aku jelaskan secara singkat.
Aku bukan tumbuh dari keluarga yang baik-baik saja karena orang tuaku saja
hampir bercerai. Aku tidak mendapatkan sedikit pun perhatian dari kedua orang
tuaku ketika aku masih SMP dan SMA. Bukan berarti mereka salah, mereka berdua
juga baru pertama kali menjadi orang tua, jadi aku memaafkan kesalahan mereka.
Tapi, ternyata itu berdampak padaku kalau disambungkan dengan obrolan soal
tangki cinta. Jika dalam kasus anaknya Mbak Arlita, tangki cintanya penuh
karena diisi kasih sayang dari keluarga kecil hingga keluarga besar yang
membuatnya bisa berperilaku dan berpikir positif, aku kebalikannya. Karena
berada di dalam keluarga yang canggung dan jarang diperharikan, aku selalu
mencari perhatian di luar, bukan di dalam rumah. Padahal seharusnya memang
lingkungan terkecil dulu mulainya, baru ke luar.
Lalu, apa
hubungannya dengan gampang geer? Ada. Karena jarang mendapat perhatian, kadang
ketika ada cewek yang aku suka atau mungkin cewek yang menurutku oke memberi
sedikit perhatiannya ke aku, sudah bisa ku pastikan aku akan kepikiran. “Apa
jangan-jangan...” Nah, tau maksudku, kan? Karena tangki cintaku belum penuh.
Jadi, ketika ada sedikit perhatian, kasih sayang, belas kasih yang tidak
sengaja tertuang sedikit ke tangki cintaku, aku merasa bahwa itu bukan
sembarang perasaan. Aku terlalu besar berharap. Tapi, sejujurnya aku capek
sendiri. Capek karena ternyata pemikiranku
yang menyimpulkan hal seperti itu pada akhirnya patah sendiri. Ya,
karena aku geer sendiri.
Aku juga
bingung bagaimana cara mengakhiri ini. Aku capek sekali kadang ketika aku
pikir, “apakah dia...” ternyata bukan. Maksudku, aku jadi terlihat gampangan.
Iya, gak, sih? Hahahahaha. Padahal aku masih polos, guys. Hahahahahaha. Apakah
ada cara mengatasinya? Ya, memang problemnya dari diriku sendiri, sih, aslinya.
Aku tau.
Maaf, yaa,
sudah terlalu banyak omong kosong. Semoga aku masih bisa terus menulis dan
sambat mengenai kehidupanku di sini. Terima kasih sudah mau membaca.
Komentar
Posting Komentar