Skena Standup di Jatim Hidup Kembali
Mungkin banyak yang baru mengikuti standup beberapa
tahun atau bahkan baru saja mengikuti perkembangannya di daerah masing-masing.
Entah sebagai pelaku atau hanya sebatas penikmat saja. Terutama di daerah Jawa
Timur yang dulunya sangat-sangat produktif dalam menghasilkan talenta-talenta
komika berbakat. Beberapa di antaranya ada Cak Akbar, Mas Topenk, Mas Muslim,
Pak Yudhit, Mas Arif, Bang Arie, Bang Abdur, dan masih banyak lagi tapi tidak bisa saya
sebutkan satu per satu.
Menurutku penurunan skena ini dimulai sekitar tahun
2015 atau 2016, di mana banyak komunitas yang mulai menyudahi atau membubarkan
komunitasnya, seperti tetangga dekat Madiun, yaitu Standupindo Ngawi. Ada juga
beberapa komunitas yang sempat vakum karena krisis yang melanda komunitasnya
mulai dari penonton dan jumlah komika yang terus berkurang. Banyak sekali
komunitas yang berguguran saat itu. Sedih melihat banyak sekali komunitas yang
gugur, sampai sempat membatin, “apa standup memang cuma sampai di sini?”
Sebenarnya kejadian tersebut juga dialami oleh
komunitasku, Standupindo Madiun. Bahkan di tahun 2015, komunitasku sempat vakum
untuk beberapa bulan karena tidak ada orang dan sulitnya menggaet penonton
untuk menonton show atau sekadar menonton open mic. Setelah vakum, jalan yang
kami ambil adalah dengan tetap terus mengadakan open mic, entah yang banyak
atau sedikit yang open mic, minimal ada. Terus membuat show meski pun jumlah
penonton semakin lama semakin terkikis, hingga saat ini. Memilih jalan itu
karena cuma itu yang bisa dilakukan agar komunitas ini tetap hidup.
Aku tidak tahu apa pendapat penonton dulu mengenai
standup yang mungkin itu adalah jawabannya kenapa waktu itu skena standup di
Jawa Timur sempat meredup. Mungkin, yang membaca ini adalah seorang penikmat
standup, bisa bantu dijawab. Karena aku dan teman-teman komunitasku berspekulasi
kalau aslinya penonton standup di Madiun ini berkurang karena dulu banyak massa
yang hadir dari kalangan anak SMA dan Mahasiswa, ada kemungkinan kalau sekarang
mereka semua sudah merantau. Ya, itu cuma spekulasi saja, belum tentu benar
juga.
Tidak hanya itu, masalah jumlah orang yang ada di
dalam komunitas juga menjadi hal penting di komunitasku. Kenapa? Karena jumlah
anggota yang ada di dalam komunitasku ini tidak sebanyak komunitas standup
lain. Aku juga tidak tahu apa yang membuat masyarakat di Madiun ini enggan
gabung dan mencoba open mic sekalian belajar standup bersama teman-teman
komunitasku. Bahkan, sampai sekarang belum terjawab. Rata-rata anak baru atau
anggota baru di komunitasku ini memang awalnya suka dengan standup, tahu kalau
di Madiun ada komunitasnya, dan bergabung. Hal itu memperkuat dugaan kalau
komunitas Standupindo Madiun tidak terendus namanya di kota Madiun. Terlalu
tenggelam dan kalah mencolok dengan komunitas lainnya.
Mungkin banyak komunitas daerah, bukan komunitas di
kota besar, yang juga merasakan hal yang sama dengan komunitasku, Standupindo
Madiun. Mereka mungkin juga berusaha keras agar komunitasnya bisa hidup kembali
atau berusaha agar tetap eksis meski pun makin hari makin sepi. Beberapa
komunitas tersebut sekarang sudah menuai hasilnya. Seperti komunitas
Standupindo Kediri, Standupindo Jombang, Standupindo Bojonegoro, Standupindo Sidoarjo,
dll.
Komunitas-komunitas yang saya sebutkan di atas
sekarang sudah bisa dibilang cukup oke sebagai komunitas daerah dengan segala
cobaan yang melanda. Mereka sudah membuktikan kalau komunitas mereka, walau pun
cuma komunitas daerah, juga siap bersaing di skena Stand-Up Comedy Jawa Timur.
Bisa dibilang kemampuannya pun mirip-mirip dengan dua komunitas besar di Jawa
Timur, Standupindo Surabaya dan Standupindo Malang.
Menurutku, bertumbuhnya beberapa komunitas daerah
ini membuat skena Stand-Up Comedy di Jawa Timur ini menjadi hidup. Memang peran
besar dari komunitas besar seperti Surabaya dan Malang ini sangat mempengaruhi
komunitas yang ada di sekitarnya. Bahkan, bisa dibilang kalau kedua komunitas
besar di Jawa Timur tersebut menjadi jujukan beberapa komunitas daerah,
termasuk komunitasku, Madiun.
Aku merasa kalau Jawa Timur mampu bersaing kembali
dengan daerah lain. Bukan tanpa dasar atau cuma omong kosong. Aku sudah
beberapa kali mencoba open mic ke luar kota alias mengunjungi komunitas yang
ada di sekitar dan hal tersebut juga dilakukan beberapa komika dari komunitas
daerahnya yang juga keliling. Sering keliling, sering bertemu, dan sering
berbagi ilmu membuat kami sekarang saling memahami dan semakin solid.
Skena Stand-Up Comedy Jawa Timur dibilang hidup juga
karena berhasil membangun sebuah komunitas baru, Standupindo Nganjuk. Komunitas
ini terbilang baru, mungkin baru setahun berjalan. Komunitas ini sering
dikunjungi beberapa komika besar dari komunitas yang ada di sekitarnya dan
mendapat ilmu serta masukan untuk keberlangsungan komunitasnya sendiri. Aku
sendiri berharap Nganjuk mampu bertahan lama agar masyarakat Nganjuk juga peka
dengan kesenian ini.
Lalu, bagaimana dengan komunitasku sendiri? Sulit untuk
dijelaskan mestinya. Karena seperti yang aku sampaikan di tulisan sebelum ini
bahwa sebenarnya secara komunitas terlihat baik-baik saja, tapi secara
pertumbuhan bisa dibilang tidak. Hasrat yang tinggi untuk menjajal materi di
open mic tidak sejalan dengan jumlah penonton yang hadir ketika open mic yang
terpaksa membuat aku dan teman-teman yang ada di komunitas Madiun harus
menerima keadaan untuk sementara waktu. Ingin belajar membuat sebuah
pertunjukkan atau show berbayar dengan mengundang salah satu komika besar juga
menjadi ragu karena yang terpikirkan selalu kerugiannya. Mengingat jumlah
penonton yang semakin berkurang juga.
Aku dan teman-teman komunitas Standupindo Madiun
sekarang sedang berusaha untuk bagaimana caranya menggaet penonton. Karena,
bisa dibilang sibuk pada tahun ini meski pun show standup cuma ada dua, Amateur
Daddy dan Menjadi Dewasa, kami sering mendapatkan job standup. Dimulai dari
bulan Juli hingga sekarang, November, sudah bisa dipastikan selalu ada job
standup, meski pun jatah komikanya nanti digilir. Sebuah tanda yang bagus, yang
juga berarti bahwa kami sekarang sudah mulai dilirik di kota kami sendiri.
Aku cuma bisa berharap komunitasku bisa
mempertahankan lajunya saat ini dan komunitas lain bisa terus bertahan bahkan
berkembang ke depannya.
Komentar
Posting Komentar