Postingan

Legenda Urban

Awal pertama saya mengikuti atau masuk dalam dunia Stand-Up Comedy ini karena ingin terlihat keren. Bisa melawak di atas panggung, lawakannya berisi dan berbobot, sampai membuat orang-orang takjub melihat saya. Itu awalnya. Karena seiring dengan saya yang terus bergelut dengan dunia Stand-Up Comedy ini membuat tujuan saya berubah. Sekarang murni ingin menghibur dari apa yang saya rasakan. Weh, bijak sekali. Asal kalian tahu, saya ini sudah berkecimpung selama sembilan tahun. Selama itu dan belum ada prestasi yang saya raih saat ini. Sudah tau bahwa tidak nihil gelar, tapi masih saja melakoni. Idealisme saya memang terlalu tinggi sampai lupa kalau hal-hal yang saya kejar ini mustahil. Hahaha. Saya merasa kalau saya ini bukanlah apa-apa. Karena komunitas saya yang juga tidak bisa dibilang bagus dibanding komunitas lain di regional Jawa Timur. Komunitas saya ini hanya menang dalam hal ngeyel aja, kalau lucu belum tentu. Saya juga merawat komunitas saya ini agar tidak mati, tidak seperti k...

Terima kasih, Koloni

Aku tidak menyangka kalau perjalananku mungkin cuma sampai di sini. Memilih jalur yang aku senangi, bahkan bisa dibilang aku mencintai jalur ini tanpa ada landasan atau dasar yang pasti, aku rela melakukan semuanya meski pun tertatih-tatih. Berlari sepanjang jalan, terus terawa-tawa dan menemukan hal-hal yang menyenangkan, hal-hal yang awalnya tidak aku sangka bisa digapai, sungguh perjalanan yang menyenangkan. Tapi, semuanya tampak harus selesai di sini, meski belum sampai di ujung jalan. Empat tahun yang lalu, aku ditunjuk untuk menjadi pimpinan koloni ini. Sudah aku duga sebelumnya bahwa akan tiba saatnya aku akan memimpin koloni ketawa-ketiwi ini. Apa yang aku pikirkan saat itu adalah bagaimana caranya agar koloni ini tetap ada meski jalannya tidak stabil. Akan aku lakukan apa pun, asal koloni ini tetap bisa berjalan sesuai dengan jalur yang sudah ditetapkan. Terdengar konyol memang apabila mendengarkan paragraf di atas. Tapi, semua itu aku lakukan karena aku tidak mau koloni yang ...

Unfinished Business Versiku Dewe

Tulisan sing iki ketoke emang kudu boso Jowo. Soale aku dewe yo bingung nek iki arep digawe boso Indonesia mergo mesti bosone bakal alay, malah ra ketok nek kuwi tulisanku hahaha. Kadang nek moco tulisanku sing nggae boso Indonesia malah ketok nek ndakik-ndakik, nek ra ngono malah ngetoki nek aku ualay hahaha. Ning, yo arep piye meneh ye te, aku tarah ra iso nggae kalimat sing apik ngono. Khususon tulisan sing iki, njajal tak nggae boso Jowo ae. Aku wonge ki uduk sing tipikal nyeritakne opo ae soal uripku, neh neh babagan tresno. Alah, alah, ambyar tenan aku soale. Aku ra berharap entok solusine, ning minimal ati iso rodok lego. Soyo mrene, aku malah ngeroso opinine konco-koncoku soal ‘Unifinished Business’ kuwi saiki mulai bener. Mergo ndisek aku tau cerito-cerito karo koncoku babagan kuwi. Koncoku, emang umure luweh tuwek kan aku, mangkane deke nyimpulne nek ‘Unifinished Business’ kuwi nyoto lan ngewenehi conto film sing judul ‘Ada Apa dengan Cinta 2.’ Aku ngeroso film sing dio...

Pantaskah Aku Berdoa?

Beberapa tahun terakhir, sudah mulai jarang memanjatkan doa untuk diriku sendiri. Hal itu dikarenakan aku merasa bahwa hidupku tidak layak untuk didoakan. Bukan berarti aku congkak, cuma merasa kalau hidupku yang penuh dosa ini apa masih boleh meminta lebih? Aku juga tidak yakin akan hal itu dan sampai sekarang pun masih bertanya-tanya. Ibadah yang harusnya dilaksanakan dengan taat sebagai tanda bahwa kita beriman saja kadang masih aku lalaikan karena suatu hal. Aku merasa kalau meminta sesuatu kepada Tuhan padahal tidak memenuhi ekspektasiNya itu sama seperti ketika aku masih kecil meminta PS2 ke papaku padahal prestasiku di sekolah biasa saja. Apakah aku tidak berdoa sama sekali? Tidak, bukan begitu. Aku masih berdoa, aku meminta, tapi bukan untuk diriku. Aku meminta agar keluargaku baik-baik saja, meminta agar keluargaku yang sudah tidak lagi hidup diberi tempat sebaik mungkin, dll. Tidak ada doa spesifik untuk diriku sendiri. Menurutku, sebenarnya konsep berdoa ini sama seper...

APAKAH AKU BISA?

Jujur saja, aku sudah mulai pesimis dengan kemampuanku di Stand-Up Comedy. Bukan karena aku menyerah, tapi aku merasa bahwa ilmu yang sampai sekarang aku pakai sudah tampak usang dan sia-sia. Sekarang banyak komika baru bermunculan dan kelihatannya mereka lebih jago dibandingkan dengan aku. Aku yang masih membawa ilmu lama, bisa dibilang juga ilmu ortodoks ini ragu karena perkembangan yang begitu pesat. Seharusnya, aku tidak perlu pesimis, karena sudah aku niatkan untuk cuma menghidupi komunitas aja, tidak lebih. Tapi, dari benakku paling dalam, ada sebuah sisi di mana aku ingin sekali berhasil di bidang ini. Padahal kalau dipikir dengan akal sehat, jelas tidak mungkin. Aku saja yang sudah berkecimpung selama sembilan tahun di Madiun, tidak menjadi apa-apa. Malah orang-orang di Madiun ada beberapa yang baru tahu kalau di Madiun ada komunitas Stand-Up Comedy. Ada sisi yang ingin aku menyelesaikan semua ini. Maksudnya, aku harus mati-matian dengan seni ini, hingga tahu aku finish di ...

Buanglah “Support Your Local Bla Bla Bla” pada Tempatnya

Sebenarnya saya sangat kesal ketika melihat orang yang saya kenal lebih memilih untuk menyaksikan sesuatu, entah apa pun itu, di luar dan tidak mendukung pergerakan yang ada di kampung halamannya sendiri. Kesal karena menurut saya, seharusnya orang seperti dia yang berada di luar sana ikut mendukung pergerakan yang ada di kampung halamannya dengan menyebarkannya ke orang-orang di sana. Akan sangat membantu orang-orang yang bergerak dalam bidang apa pun untuk bisa segera keluar dan unjuk gigi. Itu adalah buah pikiran saya dulu, dulu sekali, sebelum saya menulis artikel ini. Saya dulu inginnya semua orang mendukung apa-apa yang ada di sekitarnya. Seperti saya, semisal sedang bergerak pada bidang Stand-Up Comedy, ya harusnya orang-orang di sekitar saya ikut mendukung agar bisa semakin berkembang. Atau mungkin ke bidang yang lebih luas seperti musik. Karena seorang musisi terkenal dari daerah biasanya juga karena didukung oleh lingkungan yang baik. Saya dulu memiliki prinsip “Support Y...